Hello, Learner!

May God Help Us To Be Wise

acapicut:

A number of fatwas issued by religious groups in early 2010 banned unmarried Muslim women from indulging in hair-straightening or curling treatments, taking a motorcycle taxi, or ojek, and having pre-wedding photos taken with their husbands-to-be. Many Muslims in Indonesia find fatwas like these to be confusing, misleading or just plain ridiculous. A glance at any salon, ojek stand or wedding reception will show that on the whole, such directives are simply ignored by ordinary Muslims

(Source: acabaca)


Bob Dylan: The Early Years - Photo Gallery - LIFE →

Bob Dylan, who turns 70 on May 24, 2011, has been through many phases over the years. The protest phase, electric phase, the recluse phase, the born-again phase, etc. But what most people think about when they think about Bob Dylan are the images from his early years, when he was a fresh-faced—if preternaturally cynical-eyed—troubador making his way, guitar over shoulder, in the big city. Here, a look at those early years. Pictured: With trademark harmonica and cap on a chair, Dylan strums in February of 1963, three months before his second album, “The Freewheelin’ Bob Dylan,” was released.

Sering mendengar namanya, belum pernah mendengar karyanya, maka di sinilah saya memulai…


Among other things, you’ll find that you’re not the first person who was ever confused and frightened and even sickened by human behavior. You’re by no means alone on that score, you’ll be excited and stimulated to know. Many, many men have been just as troubled morally and spiritually as you are right now. Happily, some of them kept records of their troubles. You’ll learn from them - if you want to. Just as someday, if you have something to offer, someone will learn something from you. It’s a beautiful reciprocal arrangement. And it isn’t education. It’s history. It’s poetry.

The Catcher In The Rye, J.D. Salinger (via inherhazeleyes)

loved this book

(via braceletsoflight)


Pernahkah Anda merasakan tubuh bagian dalam Anda dan merasakan ngeri dan takjub secara bersamaan? Baru-baru ini saya sering sekali mengalami kesadaran ini. Di suatu pagi (atau sore? saya lupa) saya terbangun dari tidur dan merasakan bagian dalam kepala saya, yakni otak saya. Saya merasakan bentuknya, juga sedikit beratnya. Lalu, kemudian saya merasakan bagian luar otak saya (neocortex atau otak manusia saya) tidak berfungsi. Dia semacam tdk begitu hidup. Ada namun tertidur. Sedang otak reptil dan mamalia saya terasa hidup dan aktif.
Selang beberapa waktu (sebelum atau sesudah kejadian di atas, saya juga lupa-maafkan daya ingat saya), saya memainkan sebuah game di laptop saya tentang menyusun huruf menjadi sejumlah kata yang mungkin (dalam bahasa inggris) dan saya tidak mampu menyelesaikannya dengan baik. Dari 15-30 an kemungkinan huruf-huruf yang tersedia dapat dibentuk menjadi kata, rata-rata saya hanya mampu menyusunnya menjadi 3 sampai 5 kata saja. Saat itulah saya sadar bahwa IQ saya turun, manifestasi dari tidak berfungsinya otak manusia saya (neocortex, baca ttg sedikit review saya mengenai pembagian fungsi otak di sini). Lantas saya berjuang mati-matian malam itu untuk meningkatkan score saya dalam game tsb, namun alhamdulillah kemajuan didapat sebanyak sekitar 2% saja (hehe). Begitu saya teringat pada kemungkinan bahwa menstimulasi otak dan meningkatkan IQ tidak boleh terlalu dipaksakan dan harus menggunakan cara yang menyenangkan dan bervariasi, saya memutuskan untuk menyerah. Hehehe.
Pada waktu yang lainnya, saya tiba-tiba menyadari usus, jantung, dan tulang belakang saya ada di dalam tubuh saya. Ini bukan kali pertama sih, dulu waktu masih remaja saya suka bereksperimen dg pengalaman semacam ini, namun karena satu dan lain hal sekarang saya justru agak ngeri. Kalau Anda mau belajar self healing, saya rasa ini langkah awal yang baik bagi Anda untuk menyadari -bukan hanya mengetahui- kenyataan bahwa tubuh Anda bukan hanya seperti nampak luar saja, tetapi juga memiliki seperangkat alat-alat organik yang bekerja mekanis secara mandiri (dan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, lho!—yang ini kita bahas kapan2 lagi, ya…) di dalamnya.
Hmm… Subhanallah sekali bukan? Beautiful inside & out…:) View Larger

Pernahkah Anda merasakan tubuh bagian dalam Anda dan merasakan ngeri dan takjub secara bersamaan? Baru-baru ini saya sering sekali mengalami kesadaran ini. Di suatu pagi (atau sore? saya lupa) saya terbangun dari tidur dan merasakan bagian dalam kepala saya, yakni otak saya. Saya merasakan bentuknya, juga sedikit beratnya. Lalu, kemudian saya merasakan bagian luar otak saya (neocortex atau otak manusia saya) tidak berfungsi. Dia semacam tdk begitu hidup. Ada namun tertidur. Sedang otak reptil dan mamalia saya terasa hidup dan aktif.

Selang beberapa waktu (sebelum atau sesudah kejadian di atas, saya juga lupa-maafkan daya ingat saya), saya memainkan sebuah game di laptop saya tentang menyusun huruf menjadi sejumlah kata yang mungkin (dalam bahasa inggris) dan saya tidak mampu menyelesaikannya dengan baik. Dari 15-30 an kemungkinan huruf-huruf yang tersedia dapat dibentuk menjadi kata, rata-rata saya hanya mampu menyusunnya menjadi 3 sampai 5 kata saja. Saat itulah saya sadar bahwa IQ saya turun, manifestasi dari tidak berfungsinya otak manusia saya (neocortex, baca ttg sedikit review saya mengenai pembagian fungsi otak di sini). Lantas saya berjuang mati-matian malam itu untuk meningkatkan score saya dalam game tsb, namun alhamdulillah kemajuan didapat sebanyak sekitar 2% saja (hehe). Begitu saya teringat pada kemungkinan bahwa menstimulasi otak dan meningkatkan IQ tidak boleh terlalu dipaksakan dan harus menggunakan cara yang menyenangkan dan bervariasi, saya memutuskan untuk menyerah. Hehehe.

Pada waktu yang lainnya, saya tiba-tiba menyadari usus, jantung, dan tulang belakang saya ada di dalam tubuh saya. Ini bukan kali pertama sih, dulu waktu masih remaja saya suka bereksperimen dg pengalaman semacam ini, namun karena satu dan lain hal sekarang saya justru agak ngeri. Kalau Anda mau belajar self healing, saya rasa ini langkah awal yang baik bagi Anda untuk menyadari -bukan hanya mengetahui- kenyataan bahwa tubuh Anda bukan hanya seperti nampak luar saja, tetapi juga memiliki seperangkat alat-alat organik yang bekerja mekanis secara mandiri (dan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, lho!—yang ini kita bahas kapan2 lagi, ya…) di dalamnya.

Hmm… Subhanallah sekali bukan? Beautiful inside & out…:)


The bottom line is that we can no longer assume that we’re all striving for the same thing. Equality simply means that you want the same thing, same privileges, same access to the things that the next person - the person with whom you seek to be equal - has. Freedom means you want the ability to determine for yourself, without social and political pressures, tainted as they are by racism, how you want to live your life and what you want to achieve for your family and community. How do you know if you’ve achieved equality? Can you ever achieve equality? Now, freedom is different. When you have the power to determine your destiny, you have achieved freedom. It’s as simple as that.

— Safiya Bukhari, “The War Before” (via poisonpassion80)


Laboratorium Kehidupan*

Semua hal yang dilakukan
dalam laboratorium adalah percobaan.

Kehidupan ini adalah laboratorium,
di mana kita melakukan percobaan -
bukan untuk membuat,
tapi untuk menemukan diri hebat kita,
menemukan pekerjaan
yang membesarkan kehidupan,
dan menemukan jalan dunia yang indah
menuju surga.

Apakah yang Anda coba hari ini?

Mario Teguh

*Judul oleh saya